Kamis, 05 Februari 2015

Asmara Semar



Hari kemenangan telah tiba, bagi sebagian orang beriman ini adalah hari menyedihkan karena ditinggalkan bulan ramadhan penuh berkah. Namun lihatlah anak-anak yang riang bermain seolah tidak memiliki beban. Mereka justru riang gembira menyambut Idul Fitri. Karena itu berarti akan ada banyak makanan. Jangan dibayangkan makanan kala itu seperti kue-kue yang dijual ditoko-ditoko sekarang. Mereka merayakan Idul fitri dengan memotong ayam satu ayam untuk satu RT. Anak-anak dan para lelaki diutamakan. Sedangkan para ibu dan wanita lebih banyak mempersiapkan hidangan tanpa banyak memakan. Padahal mereka yang makan banyak pun hanya mendapatkan paling banyak 5-8 suwir ayam. Yah... itulah kehidupan dimasa 1970an.
Mur yang tampak sibuk membantu ibunya tetap tampak cantik menawan. Mur memang lebih rajin dibandingkan saudara-saudaranya. Ia bukan lagi sibuk memasak tetapi sibuk mempersiapkan dagangan yang akan dijual didepan rumah setiap lebaran tiba. Maklum di hari ini biasanya anak-anak mendapatkan sedikit ampau dari sanak famili dan tetangga. Dan uang itu beberapa ditabung di pedagang. Beberapa orang yang bekerja ke luar kota pulang, terkadang mereka membeli sesuatu untuk di makan bersama keluarga.
Setelah siap, Mur dan seorang wanita tak kalah cantik dan bertubuh proposional duduk didepan rumah menunggu barang dagangan. Mur yang sedari tadi sibuk tak membuatnya tampak lusuh. Wajahnya yang cantik dan kulitnya yang halus membuat orang-orang mengira ia suka berdandan. Sebenarnya, Mur tak pernah mempunyai banyak waktu untuk berdandan. Cantiknya adalah anugrah dari Yang Maha Kuasa.
Sesekali terlihat orang lewat dengan berjalan kaki. Anak-anak bermain. Orang-orang yang memanfaatkan momen ini dengan berkunjung ke tempat saudara. Dari sinilah semua berawal.

Senin, 02 Februari 2015

Surat Untuk Ibu



Ibu... cintaku padamu tak kan lekang oleh waktu.
Wajah cantik yang berpuluh tahun lalu mempertaruhkan nyawanya hanya untuk melihat kehidupan baru, kelahiranku. Wajah yang kini mulai menua dan garis-garis keriput tergambar jelas. Mampukah aku membahagiakanmu ibu?
Sungguh cintamu sepanjang jalan dan cintaku sepanjang galah. Berjuta kali aku mencoba membahagiakanmu, tak pernah cukup membayar semua yang kau berikan padaku, bahkan jika aku memberikan seluruh hidup.

Sabtu, 10 Januari 2015

Anak Special (Si Pemaaf yang pertama puasa full)



Riuh suara menggema dikelas satu. Bulan ini adalah bulan pertama mereka berstatus sebagai siswa SD. Seperti biasanya ada yang menangis meminta pulang, minta ditunggui orang tuanya, berkelahi lalu dalam beberapa detik kemudian main bersama kembali, ataupun sekedar berebut mainan. Namun banyak pula yang sudah akrab dengan teman baru, bermain bersama dan berkenalan dengan guru serta kakak kelasnya. Unik. Setiap siswa memiliki pola asuh dan latar belakang keluarga yang berbeda-beda, baru kali ini saya mampu membuktikan kebenaran bahwa anak adalah gambaran pola asuh orang tuanya. Tiga puluh tujuh siswa yang hebat hari ini dengan karakter yang unik membuatku tertantang untuk mampu menaklukan mereka. Mata penuh sinar kepolosan tanpa dosa, tubuh mungil yang tiada henti bergerak membuatku terpana dengan ciptaan Allah. Mana mungkin aku tak sayang dengan mereka?
Kulihat satu bangku masih setia diduduki oleh pemiliknya, sosok anak yang terlihat mungil dengan mata bulat. Hati menggerakanku mendekati anak ini, “namanya mas siapa?” tanyaku lembut.
“Utsman.” Jawabnya.
“Mas Utsman, main itu sama temennya.” Kataku memintanya mencoba bersosialisasi dengan yang lain. Dan jawabannya hanya senyum.
“Itu main sama mas Naufal ya...” tunjukku kepada salah seorang anak yang sudah aku kenal sebelumnya. Utsman mulai bergerak dari tempat duduknya.
“Mas Naufal, mas Utsman diajak main ya...” kataku kepada Naufal.

Sabtu, 03 Januari 2015

Istikharoh Ananda part 5




Saya, Awan dan rombongan segera berangkat. Sungguh beruntung hari ini cerah. Sampai disana kami masih harus berjalan hingga 30km untuk memasuki daerah ini. Bau anyir darah para syuhada menusuk hidungku. Kami mendapatkan kabar bahwa salah satu perkampungan kembali di bom bersama satu barak pengungsian. Bau ini membuatku sangat mual. Darah berceceran dimana-mana. Tanganku mengeluarkan keringat dingin. Sungguh pemandangan yang menyeramkan. Rumah dan bangunan luluh lantah. Terlihat beberapa orang mengevakuasi di tempat kejadian. Ada yang menyelamatkan dari reruntuhan bangunan, menggendong balita yang kehilangan orang tua dengan luka penuh darah. Tak pernah ku bayangkan kehidupan seperti ini sebelumnya.

Istikharoh Ananda part 4



Aku mencoba menuruti apa kata ibu kali ini. Ia memintaku untuk menikah dan mencarikan jodoh untukku. Sebenarnya aku sudah tidak menginginkan untuk menikah. Tetapi aku pun tak ingin mengecewakan ibu. Perjodohan berjalan lancar. Tanggal pernikahan telah ditentukan. Seluruh anggota keluarga merona bahagia dengan pernikahan ini. Entah kenapa, aku tak bahagia ataupun sedih. Seperti seluruh hidupku tergadaikan demi kebahagiaan semua orang. Jalan hidup menjadi hambar. Bahkan tak lagi mampu merasakan sakit. Mungkin rasa sakit yang ditinggalkan Daffa masih membekas dihati.
Bintang bercahaya, berkedip genit kepada siapapun yang melihatnya. Tepat jam 9 malam aku bersama keluarga berkumpul menyiapkan pernikahan. Ting tong... ting tong... bel rumah berbunyi. Siapa dan untuk apa malam-malam begini mengganggu rumah orang. Pasti ada hal penting. Kakak pertama membukakan pintu. Nampak seorang perempuan cantik dengan rambut tergerai ke punggung berwajah sendu.
“Assalamu’alaikum, maaf benar ini rumah Ananda?” tanyanya. Merasa namaku disebut aku keluar dan mengintipnya dari balik korden yang membatasi ruang tengah dengan ruang tamu.
“Wa’alaikum salam. Iya benar, anda siapa?” tanya Mas Arya.
“Saya Nova. Ada yang ingin saya sampaikan dengan Ananda dan keluarga.” Jawabnya.
“Baik, silahkan masuk.” Jawab Mas Arya.
Kini aku, Mas Ridwan, ibu dan Nova duduk bersama diruang tamu.  Nova mengeluarkan amplop besar berwarna coklat dan memperlihatkan isinya.