Apa yang terjadi hingga ia
terlihat begitu terganggu psikologisnya? Itu pertayaan pertama yang ada dalam
pikiran saya untuk anak ini. Diam dipojok kelas dan tak bisa dibujuk, tidak
juga untuk makan. Saya mencoba mengumpulkan informasi tentang anak ini. Yah ternyata
dia anak broken home. Bapak kandungnya pergi saat ia masih kecil, ibunya
menikah lagi dengan lelaki lain. Ia tinggal bersama ayah tirinya. Dikucilkan
oleh lingkungannya di rumah maupun disekolah. Gurunya juga ikut mengucilkannya
karena ia tak bisa membayar SPP, beberapa guru hanya berbisik “Kasian anak
ini”. Ah... lagi-lagi komentar naif.
Selasa, 02 Februari 2016
Senin, 31 Agustus 2015
Sembuh Dengan Usapan Tangan
Kisah nyata ini kami alami beberapa tahun lalu. Aneh tapi nyata.
Entah apa yang menjadi penyebab keluarga ini begitu membenci kami, mungkin karena lamaran salah seorang tetangga yang saya tolak karena memang saya tak menemukan jawaban di dalam istikharoh. Jawaban istikharoh justru memberatkan langkah saya untuk terus maju dan melangkah. Kalau sudah begini, tak ada yang bisa dipaksakan. Mereka membenci kami karena lamaran itu datang dari anak seorang pemuka organisasi yang sama dengan dia.
Mulailah keluarga ini membenci, kami (saya dan ibu) diberitakan menjadi orang yang sombong, tak pernah bersosialisasi dan lain sebagainya. Saya sendiri mengakui memang kurang bersosialisasi dengan tetangga, karena saya ingin menghindari ghibah. cukup sepekan sekali saya berkumpul dalam taklim yang diselenggarakan di dekat rumah. Itupun pesertanya hanya sedikit. Sedangkan ibu tidak pernah absen dari arisan. Ikut pengajian sebulan sekali tetapi agak jauh dari rumah. Rajin pula iut pengajian haji walau memang lebih banyak diam.
Dari isu-isu yang beredar, tentu saja menyakitkan. Ibu masih saja tenang, seolah masa bodoh dengan berita-berita tersebut. Tetapi, saya tidak. Jelas saja saya sakit hati walau tak bisa membalas dan tak ingin membalas. Dalam doa saya, Allah Maha Adil. Allah-lah yang akan memberikan kami keadilan itu dengan tangan-Nya yang sempurna.
Entah apa yang menjadi penyebab keluarga ini begitu membenci kami, mungkin karena lamaran salah seorang tetangga yang saya tolak karena memang saya tak menemukan jawaban di dalam istikharoh. Jawaban istikharoh justru memberatkan langkah saya untuk terus maju dan melangkah. Kalau sudah begini, tak ada yang bisa dipaksakan. Mereka membenci kami karena lamaran itu datang dari anak seorang pemuka organisasi yang sama dengan dia.
Mulailah keluarga ini membenci, kami (saya dan ibu) diberitakan menjadi orang yang sombong, tak pernah bersosialisasi dan lain sebagainya. Saya sendiri mengakui memang kurang bersosialisasi dengan tetangga, karena saya ingin menghindari ghibah. cukup sepekan sekali saya berkumpul dalam taklim yang diselenggarakan di dekat rumah. Itupun pesertanya hanya sedikit. Sedangkan ibu tidak pernah absen dari arisan. Ikut pengajian sebulan sekali tetapi agak jauh dari rumah. Rajin pula iut pengajian haji walau memang lebih banyak diam.
Dari isu-isu yang beredar, tentu saja menyakitkan. Ibu masih saja tenang, seolah masa bodoh dengan berita-berita tersebut. Tetapi, saya tidak. Jelas saja saya sakit hati walau tak bisa membalas dan tak ingin membalas. Dalam doa saya, Allah Maha Adil. Allah-lah yang akan memberikan kami keadilan itu dengan tangan-Nya yang sempurna.
Kamis, 05 Februari 2015
Asmara Semar
Hari
kemenangan telah tiba, bagi sebagian orang beriman ini adalah hari menyedihkan
karena ditinggalkan bulan ramadhan penuh berkah. Namun lihatlah anak-anak yang
riang bermain seolah tidak memiliki beban. Mereka justru riang gembira
menyambut Idul Fitri. Karena itu berarti akan ada banyak makanan. Jangan
dibayangkan makanan kala itu seperti kue-kue yang dijual ditoko-ditoko
sekarang. Mereka merayakan Idul fitri dengan memotong ayam satu ayam untuk satu
RT. Anak-anak dan para lelaki diutamakan. Sedangkan para ibu dan wanita lebih
banyak mempersiapkan hidangan tanpa banyak memakan. Padahal mereka yang makan
banyak pun hanya mendapatkan paling banyak 5-8 suwir ayam. Yah... itulah
kehidupan dimasa 1970an.
Mur yang
tampak sibuk membantu ibunya tetap tampak cantik menawan. Mur memang lebih
rajin dibandingkan saudara-saudaranya. Ia bukan lagi sibuk memasak tetapi sibuk
mempersiapkan dagangan yang akan dijual didepan rumah setiap lebaran tiba.
Maklum di hari ini biasanya anak-anak mendapatkan sedikit ampau dari sanak
famili dan tetangga. Dan uang itu beberapa ditabung di pedagang. Beberapa orang
yang bekerja ke luar kota pulang, terkadang mereka membeli sesuatu untuk di
makan bersama keluarga.
Setelah siap,
Mur dan seorang wanita tak kalah cantik dan bertubuh proposional duduk didepan
rumah menunggu barang dagangan. Mur yang sedari tadi sibuk tak membuatnya
tampak lusuh. Wajahnya yang cantik dan kulitnya yang halus membuat orang-orang
mengira ia suka berdandan. Sebenarnya, Mur tak pernah mempunyai banyak waktu
untuk berdandan. Cantiknya adalah anugrah dari Yang Maha Kuasa.
Sesekali
terlihat orang lewat dengan berjalan kaki. Anak-anak bermain. Orang-orang yang
memanfaatkan momen ini dengan berkunjung ke tempat saudara. Dari sinilah semua
berawal.
Senin, 02 Februari 2015
Surat Untuk Ibu
Wajah cantik yang berpuluh tahun
lalu mempertaruhkan nyawanya hanya untuk melihat kehidupan baru, kelahiranku. Wajah
yang kini mulai menua dan garis-garis keriput tergambar jelas. Mampukah aku
membahagiakanmu ibu?
Sungguh cintamu sepanjang jalan
dan cintaku sepanjang galah. Berjuta kali aku mencoba membahagiakanmu, tak
pernah cukup membayar semua yang kau berikan padaku, bahkan jika aku memberikan
seluruh hidup.
Sabtu, 10 Januari 2015
Anak Special (Si Pemaaf yang pertama puasa full)
Riuh suara
menggema dikelas satu. Bulan ini adalah bulan pertama mereka berstatus sebagai
siswa SD. Seperti biasanya ada yang menangis meminta pulang, minta ditunggui
orang tuanya, berkelahi lalu dalam beberapa detik kemudian main bersama kembali,
ataupun sekedar berebut mainan. Namun banyak pula yang sudah akrab dengan teman
baru, bermain bersama dan berkenalan dengan guru serta kakak kelasnya. Unik. Setiap
siswa memiliki pola asuh dan latar belakang keluarga yang berbeda-beda, baru
kali ini saya mampu membuktikan kebenaran bahwa anak adalah gambaran pola asuh
orang tuanya. Tiga puluh tujuh siswa yang hebat hari ini dengan karakter yang
unik membuatku tertantang untuk mampu menaklukan mereka. Mata penuh sinar
kepolosan tanpa dosa, tubuh mungil yang tiada henti bergerak membuatku terpana
dengan ciptaan Allah. Mana mungkin aku tak sayang dengan mereka?
Kulihat satu
bangku masih setia diduduki oleh pemiliknya, sosok anak yang terlihat mungil
dengan mata bulat. Hati menggerakanku mendekati anak ini, “namanya mas siapa?”
tanyaku lembut.
“Utsman.” Jawabnya.
“Mas Utsman,
main itu sama temennya.” Kataku memintanya mencoba bersosialisasi dengan yang
lain. Dan jawabannya hanya senyum.
“Itu main sama
mas Naufal ya...” tunjukku kepada salah seorang anak yang sudah aku kenal
sebelumnya. Utsman mulai bergerak dari tempat duduknya.
“Mas Naufal,
mas Utsman diajak main ya...” kataku kepada Naufal.
Langganan:
Postingan (Atom)


.jpg)

