Sabtu, 10 Januari 2015

Anak Special (Si Pemaaf yang pertama puasa full)



Riuh suara menggema dikelas satu. Bulan ini adalah bulan pertama mereka berstatus sebagai siswa SD. Seperti biasanya ada yang menangis meminta pulang, minta ditunggui orang tuanya, berkelahi lalu dalam beberapa detik kemudian main bersama kembali, ataupun sekedar berebut mainan. Namun banyak pula yang sudah akrab dengan teman baru, bermain bersama dan berkenalan dengan guru serta kakak kelasnya. Unik. Setiap siswa memiliki pola asuh dan latar belakang keluarga yang berbeda-beda, baru kali ini saya mampu membuktikan kebenaran bahwa anak adalah gambaran pola asuh orang tuanya. Tiga puluh tujuh siswa yang hebat hari ini dengan karakter yang unik membuatku tertantang untuk mampu menaklukan mereka. Mata penuh sinar kepolosan tanpa dosa, tubuh mungil yang tiada henti bergerak membuatku terpana dengan ciptaan Allah. Mana mungkin aku tak sayang dengan mereka?
Kulihat satu bangku masih setia diduduki oleh pemiliknya, sosok anak yang terlihat mungil dengan mata bulat. Hati menggerakanku mendekati anak ini, “namanya mas siapa?” tanyaku lembut.
“Utsman.” Jawabnya.
“Mas Utsman, main itu sama temennya.” Kataku memintanya mencoba bersosialisasi dengan yang lain. Dan jawabannya hanya senyum.
“Itu main sama mas Naufal ya...” tunjukku kepada salah seorang anak yang sudah aku kenal sebelumnya. Utsman mulai bergerak dari tempat duduknya.
“Mas Naufal, mas Utsman diajak main ya...” kataku kepada Naufal.

Kulihat Naufal, Utsman dan Rizal mulai bermain bersama. Berjalan diantara meja dengan meja. Kaki kanan naik dikaki meja sebelah kanan dan kaki kiri naik dikaki meja sebelah kiri. Lalu kaki kanan maju ke kaki kursi sebelah kanan dan kaki kiri maju ke kaki meja sebelah kiri. Terus berjalan menyusuri gang sampai ujung lalu diulangi lagi. Simpel. Tak perlu hal aneh untuk menikmati hidup, setidaknya itulah yang aku pelajari dari keceriaan mereka. Aku dan teman-teman mengutamakan penanaman aqidah kepada anak-anak. Kebetulan kami memulai tahun ajaran ini di bulan Ramadhan. Pertanyaan sama dan berulang yang sering kami tanyakan kepada siswa diharapkan mampu memotivasi mereka untuk melakukan hal itu.
“siapa yang hari ini puasa angkat tangan?” kata Ustadzah Via kepada anak-anak. Mereka yang berpuasa antri angkat tangan sedangkan ustadzah Via sibuk menuliskan satu persatu nama anak yang angkat tangan.
“siapa yang hari ini puasa sehari penuh?” Tanya ustadzah Via. Kami menganggap pertanyaan ini adalah pertanyaan berhadiah. Jika ada anak yang angkat tangan, aku anggap ini adalah hadiah dari Allah karena telah menitipkan anak hebat di kelas 1. Seusia ini kebanyakan anak baru latihan puasa dengan berpuasa setengah hari. Beberapa anak angkat tangan dan kami apresiasi kerja mereka dengan bintang prestasi.

Bulan puasa hampir meninggalkan kita, itu juga berarti libur segera tiba. Antara sedih atau senang. Sepertinya sekarang sulit mencari orang yang sedih jika ditinggalkan bulan ramadhan. Tradisi sekaligus ibadah yang ditanamkan Rasul disepuluh hari bulan ramadhan untuk memperbanyak ibadah telah berganti menjadi benlanja persiapan lebaran. Seolah ketika lebaran tiba semua orang telah merdeka. Merdeka dari sebuah aturan yang membelenggu yang disebut puasa? Ataukah benar-benar merdeka dari hawa nafsu? Hanya setiap diri yang mampu menjawabnya.
Sekolah telah menyapa meminta semua anggotanya segera memasuki ruangan. Bel berbunyi. Hari pertama setelah sebulan puasa, kami mulai dengan upacara dan halal bi halal. Usai upacara, siswa putri berjabat tangan dengan ustadzah dan siswa putra berjabat tangan dengan ustadz.
Siswa duduk dikelas dengan ramai, bahkan ada yang berlarian. Sepertinya memang lebih mirip TK dari pada SD. Wajar karena masih banyak siswa berusia dibawah 7 tahun. Saya dan Us Via membuka kelas, menyapa ringan. Murojaah dan bernyanyi. Dan kebiasaan wajib saya adalah bertanya. Bukan masalah pelajaran, tetapi lebih pada masalah kebiasaan agar menjadi pembiasaan.
“Siapa yang puasanya full? Angkat tangan” sekelas diam. Tak satupun angkat tangan. Aku tersenyum maklum.
“Yang bolongnya Cuma satu hari?” masih belum ada yang angkat tangan.
“Dua hari?” satu anak angkat tangan. Dia adalah Utsman. Sampai pada pertanyaan ini pun saya masih mencoba tanya-tanya berhadiah. Dan Allah memberikan kami hadiah istimewa hari ini. Anak titipan yang Istimewa bernama Utsman telah menjalankan puasa ramadhan penuh.
Aku yang masih tak percaya, mencoba bertanya kepada Utsman tantang puasa ramadhan. Dia bercerita bahwa disuruh orang tuanya untuk puasa dan dia menyepakatinya karena mau disayang Allah. Dua hari tidak puasa karena sedang sakit. Mataku haru. Sungguh luar biasa orang tua yang mampu mendidik anak seperti ini. Kutemukan anak-anak dari surga, padanya terpikul harapan bahwa negeri ini mampu meraih kejayaan. Agama ini mampu meraih kembali kemuliaannya.

Semakin tinggi pohon, akan semakin kencang angin menggoyangkan. Begitu pula dengan keimanan. Semakin kuat keimanan seseorang Allah akan mengujinya dengan ujian yang lebih berat terus seperti itu agar ia mendapatkan keimanan. Seperti itu pulalah Utsman. Karakter pendiam dan selalu mengalah membuat teman-teman yang usil selalu menjailinya. Dan anehnya, Utsman tak pernah marah ataupun menangis. Ia diam, walaupun sesekali terlukis kesedihan diraut wajahnya.
Bagi anak seusia Utsman, buku pelajaran disembunyikan teman, menulis lalu dicoret-coret dan diejek merupakan ujian tersendiri. Kebanyakan anak ketika mengalami hal itu menangis, atau mengamuk. Tetapi tidak dengan Utsman. Pilihannya untuk Diam tentu saja beralasan. Pernah ketika dalam puncaknya, peci Utsman diambil salah satu teman.
“Hiiiii.... peci Utsman bau....” teriak Iqbal. Lalu dilempar peci itu ke Daffa.
“Iya... hiiii.... bau...” teriak Daffa dan melempar ke teman yang lain. Beberapa anak kelas yang terprovokasi oleh Iqbal dan Daffa membuat Utsman menjadi lempar-lemparan dan ejekan.
Kali ini kulihat sinar mata Utsman meredup dan hampir meneteskan air mata. Setelah aku dapatkan peci Utsman, kuserahkan Daffa dan Iqbal kepada wali kelasnya.
Kulihat Utsman yang masih berdiri di tempat yang sama. Tak tahan melihatnya. Aku memeluk Utsman.
“Mas Utsman, maafkan mas Daffa dan Mas Iqbal ya...” kataku.
“Iya us... sudah aku maafkan.” Katanya lembut berbisik ditelingaku.
“Mas Utsman, InsyaAllah menjadi generasi penerus Usman bin Affan ya...” kataku, ia menjawab dengan senyuman. Aku lihat sorot matanya berubah, dari kesedihan menjadi bahagia penuh semangat.
Hampir tak tahan air mata mengalir. Ada rasa kagum. Lega. Simpati. Dan juga iri. Bagaimana aku tidak iri dengan anak sekecil ini yang Allah berikan kelapangan dada seluas Bumi? Maaf seluas langit? Dan jiwa teduh lebih sejuk dari embun pagi? Allah... jika teguhkan anak ini selalu dijalanMu.

Hari pengambilan rapot kenaikan kelas tiba. Utsman mendapatkan ranking 8 dikelas. Bukankah Allah selalu menolong hamba-Nya yang Ia cintai. Utsman dengan usia dibawah tujuh tahun, tidak pernah mencontek dan tidak pernah mau memberi contekan, mengerjakan soal selalu dengan jujur. Bahkan orang tuanya sendiri sempat ragu untuk memasukannya ditahun itu, kini telah membuktikan kemampuan dirinya. Ia bisa.
“Bu... saya lihat mas Utsman itu selalu dijaili dengan teman-temannya tetapi tidak pernah membalas. Ia juga pendiam.” Kata Us Via kepada orang tuanya.
“Iya us, saya selalu mengajari Utsman kalau dinakali temennya tidak usah dibalas, dimaafkan saja. Didoakan biar tidak jail lagi. Di rumah, mas Utsman juga sering cerita.” Jelas Ibunya Utsman.
Anak adalah gambaran pola asuh orang tuanya. Kewajiban mereka mendidiknya  dan mencarikan lingkungan bermain yang islami. Hatinya yang suci seperti mutiar yang masih utuh, belum dipahat maupun dibentuk. Ia mudah dibentuk dalam bentuk apapun. Jika kita tanamkan kebaikan kepadanya, maka ia akan tumbuh dalam kebaikan. Jika kita tanamkan keburukan padanya, maka ia akan tumbuh dalam keburukan.


nb: terinspirasi dari kisah nyata

Tidak ada komentar:

Posting Komentar