Sabtu, 11 Oktober 2014

Ketika Anak Berbuat Salah

Seorang anak duduk manja dipangkuan saya setelah diminta wali kelasnya untuk bertanggung jawab atas snack temannya yang dimakan olehnya. “Mas, kenapa disini?” tanyaku.
“Disuruh ustadzah” jawabnya.
“Memang kenapa disuruh ustadzah kesini?” tanyaku.
“tadi makan snack lima.” Jawabnya sambil cemberut manja.

Jika kejadian itu dialami oleh bunda, apa yang akan bunda lakukan? Marah? Ngomel? Atau memukul?

Tersenyum karena bahagia atau Bahagia karena Tersenyum????

Bahagiakah anda? Kalau jawaban anda adalah ya! Maka pertanyaan anda berikutnya adalah kapan terakhir anda tersenyum? Jika anda tidak bisa menjawab (tentunya jangan asal menjawab alias ngawur). Maka dimungkinkan dalam diri anda ada setumpuk emosi negatif dan bahkan anda dihinggapi depresi!
Waspadalah...!!!! waspadalah... !!!!

Jumat, 10 Oktober 2014

Ibu, Jangan Benci Aku


Gedung bercat hijau, berdiri gagah diantara sawah-sawah yang mengelilinginya. Didepan bagian depan ada masjid yang tampak elegan berdiri walaupun masih tenggelam diantara gedung-gedung lain disekitarnya. Pagi ini cukup cerah jika dilihat dari arah timur menghadap ke barat, berjajar dua gunung menjadi latar gedung-gedung itu. Gunung itu adalah gunung Merapi dan Merbabu yang tampak indah tersinari matahari. Ditambah hiasan awan yang putih bersih dan langit biru yang menambah takjub yang memandangnya.  Aktivitas dideretan gedung itu telah dimulai. Tampak motor dan mobil memasuki area parker yang ada disana. Itulah kampusku IAIN Surakarta.
Papan pengumuman sejak sepagi ini sudah ramai diserbu Mahasiswa semester 7. Riuh. Ada yang senang, ada yang sesal, namun ada pula yang terlihat biasa-biasa saja. Mereka bukan melihat hasil ujian atau nilai apapun. Mereka melihat pengumuman pengelompokan KKN. KKN kali ini aka diselenggarakan di salah satu kecamatan paling ujung di kabupaten Sukoharjo. Namanya Bulu. Disanalah aku bersama teman-temanku akan mengabdi dengan memecahkan sebagian permasalahan di desa masing-masing. Aku ikut mendekati papan itu untuk mencari namaku. Tak begitu sulit karena namaku masih berada dijajaran teratas papan itu. Nama Ananda Sofia berada dikelompok 15 bersama dengan kelompok 16 ke desa Malangan yang akan dibimbing dengan Pak Harun Kurniawan. Tanggal pemberangkatan tinggal 1 minggu lagi. Aku harap semua berjalan dengan lancar.

Kamis, 09 Oktober 2014

Hafalan Al Qur'an dan Ananda

Siapa yang tidak ingin memiliki anak sholeh-sholehah??? Tentu semua orang tua ingin memiliki anak sholeh-sholehah. Karena mereka bisa menjadi amal jariyah kita. Mereka juga akan menjadi alasan Allah SWT memasukan kita ke surga-Nya. Lalu, apa yang harus kita lakukan agar anak-anak kita menjadi anak yang sholeh-sholehah. Salah satunya, jadikan mereka para penghafal qur’an.

Undur-Undur, Hidup Tidak Boleh Mundur

Pada 2004, Umar adalah siswa kelas VII SMP YIMI Gresik dan gagap. kemampuan kognitifnya juga ala kadarnya dan sangat standar. pada saat menerima rapor tahunan hati kedua orang tuanya berdebar-debar. takut Umar tidak naik ke kelas VIII. selain huruf nama depannya "U" ayah bunda Umar mendapatkan giliran terakhir menerima rapor berwarna merah. "Bagaimana ibu, rapor anakku, naik atau tidak naik?" tanya Bunda Umar tak sabar. 

Anak Dari Surga

Cuaca sepertinya sedang tidak bersahabat. Sedari sore kemarin hujan tak juga reda. Bahkan semalam beberapa kali petir menyapa bumi. Rasa malaspun menggelayuti diri untuk segera berangkat mengajar ke sekolah. Gunung merapi dan merbabu di sebelah barat hingga jam 6 pagi tertutup oleh awan mendung. Dingin. Matahari muncul malu-malu bersembunyi dibelakang awan. Redup. Pagi seperti ini bagi pemalas pasti akan lebih memilih untuk mengangkat selimut di tempat tidur. Menghabiskan pagi dengan tidur. 

Calis Bos Sejati

Terima rapot merupakan hari yang menyenangkan atau menegangkan. Hasil kerja selama 1 semester akan dibagikan kepada orang tua. Uniknya di sekolah mungil yang gedungnya belum jadi sempurna itu, tidak hanya hasil ulangan dan angka saja yang dilaporkan kepada orang tua tetapi juga perkembangan kepribadian anak, partisipasi orang tua dalam mendidik anak di rumah dan juga prestasi non akademik siswa. Hari itu, saya bertugas sebagai teller pembayaran. Seperti semester sebelumnya, tugas itu sangat sibuk saat terima rapot. Banyak orang tua yang akan melunasi tanggungan biaya atau bahkan mengkonfirmasi belum bisa membayar dan akan membayar dalam jangka waktu tertentu. Jika dibayangkan, tugasnya membuat kepala pusing. Jauh lebih menyenangkan jika bertemu anak-anak, bercanda bersama atau bahkan sekedar menggoda mereka. Diantara banyak antrian, saya melihat salah seorang anak didik saya di kelas 1 A yang secara akademis tak begitu pintar tetapi bakat berjualannya sangat menonjol. Namanya Calis. Ingat beberapa waktu lalu saat saya menunggu ulangan kenaikan kelas, calis berteriak saat teman-temannya masih sibuk mengerjakan soal.