Minggu, 24 Februari 2019

NOER BUKAN NUR



Tahun ke lima aku mengabdi sebagai seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Tepatnya satu setengah tahun aku membersamai sekolah ini. Sekolah ini tempat ke dua aku mengabdi. Sebuah SMP favorit di kabupaten tempat saya beranjak dewasa. Awalnya ditempat ini aku memulai dengan sebuah niat hanya sekedar memberikan ilmu. Aku tidak lagi berminat mencampuri urusan pribadi murid-muridku, terutama urusan keluarga mereka. Dua tahun 10 bulan pertama mengajar dengan banyak mencampuri urusan orang membuatku kelelahan terlebih segala usahaku tak dianggap. Memulai langkah baru, cara baru, dan pribadi baru. Awalnya semua berjalan seperti rencana. Mereka murid-murid yang aku sayangi, dan aku adalah guru favorit mereka. Hanya sebatas guru dan murid.
Dinding cat krem perpustakaan tempat aku berdomisili di sekolah ini menjadi sebuah saksi. Seorang murid yang duduk didepanku terdiam terpaku menunggu alasanku memanggil anak ini kesini. Sebelumnya Baim datang dan bercerita bahwa Noer muram setelah dari BK.
“kenapa kamu tadi berada di BK?” tanyaku.
“Dipanggil Bu Ntik, bu.” Jawabnya sambil menunduk.
Lalu ku pandang wajahnya lekat-lekat. Wajahnya menandakan sama sekali tak memiliki gairah hidup.
“Masih sama dengan kasus kemarin? Atau ini lanjutan?” kataku. Wajahnya mendongak menatapku sekilas lalu menunduk lagi. Aku tersenyum, pancingan pertama berhasil.

Jumat, 04 Maret 2016

Si "Miskin" dan Si "Kaya" (Dalam Hadits Qudsi Allah mencintai 3 hal dan Membenci 3 hal)

Dalam Hadits Qudsi, Allah berfirman:
”Aku (Alloh) mencintai tiga golongan tapi lebih mencintai tiga golongan. dan Aku benci tiga golongan tapi lebih benci lagi tiga golongan: 
1.    AKU (Alloh) mencintai orang-orang Tua yang taat, dan AKU lebih cinta lagi kepada pemuda yang taat. 
2.    AKU mencintai pada orang-orang (miskin) yang tawadhu’ (rendah hati), dan AKU lebih mencintai orang kaya yang rendah hati
3.    AKU mencintai orang-orang (kaya) yang memuliakan (mengutamakan) hak orang lain, dan AKU lebih mencintai pada orang miskin yang mengutamakan hak orang lain. 
1.    Dan AKU membenci pada orang-orang (miskin) yang bakhil (kikir), dan AKU lebih benci lagi terhadap orang kaya yang bakhil. 
2.    AKU benci pada orang-orang (kaya) yang sombong, dan AKU lebih benci lagi pada orang miskin yang sombong. 
3.    Aku membenci orang-orang muda yang berzina, dan AKU lebih benci lagi terhadap orang-orang tua yang melakukan zina”.

Selasa, 02 Februari 2016

Akhir Pekerjaan, Juga Akhir...

Apa yang terjadi hingga ia terlihat begitu terganggu psikologisnya? Itu pertayaan pertama yang ada dalam pikiran saya untuk anak ini. Diam dipojok kelas dan tak bisa dibujuk, tidak juga untuk makan. Saya mencoba mengumpulkan informasi tentang anak ini. Yah ternyata dia anak broken home. Bapak kandungnya pergi saat ia masih kecil, ibunya menikah lagi dengan lelaki lain. Ia tinggal bersama ayah tirinya. Dikucilkan oleh lingkungannya di rumah maupun disekolah. Gurunya juga ikut mengucilkannya karena ia tak bisa membayar SPP, beberapa guru hanya berbisik “Kasian anak ini”. Ah... lagi-lagi komentar naif.

Senin, 31 Agustus 2015

Sembuh Dengan Usapan Tangan

Kisah nyata ini kami alami beberapa tahun lalu. Aneh tapi nyata.
Entah apa yang menjadi penyebab keluarga ini begitu membenci kami, mungkin karena lamaran salah seorang tetangga yang saya tolak karena memang saya tak menemukan jawaban di dalam istikharoh. Jawaban istikharoh justru memberatkan langkah saya untuk terus maju dan melangkah. Kalau sudah begini, tak ada yang bisa dipaksakan. Mereka membenci kami karena lamaran itu datang dari anak seorang pemuka organisasi yang sama dengan dia.
Mulailah keluarga ini membenci, kami (saya dan ibu) diberitakan menjadi orang yang sombong, tak pernah bersosialisasi dan lain sebagainya. Saya sendiri mengakui memang kurang bersosialisasi dengan tetangga, karena saya ingin menghindari ghibah. cukup sepekan sekali saya berkumpul dalam taklim yang diselenggarakan di dekat rumah. Itupun pesertanya hanya sedikit. Sedangkan ibu tidak pernah absen dari arisan. Ikut pengajian sebulan sekali tetapi agak jauh dari rumah. Rajin pula iut pengajian haji walau memang lebih banyak diam.
Dari isu-isu yang beredar, tentu saja menyakitkan. Ibu masih saja tenang, seolah masa bodoh dengan berita-berita tersebut. Tetapi, saya tidak. Jelas saja saya sakit hati walau tak bisa membalas dan tak ingin membalas. Dalam doa saya, Allah Maha Adil. Allah-lah yang akan memberikan kami keadilan itu dengan tangan-Nya yang sempurna.

Kamis, 05 Februari 2015

Asmara Semar



Hari kemenangan telah tiba, bagi sebagian orang beriman ini adalah hari menyedihkan karena ditinggalkan bulan ramadhan penuh berkah. Namun lihatlah anak-anak yang riang bermain seolah tidak memiliki beban. Mereka justru riang gembira menyambut Idul Fitri. Karena itu berarti akan ada banyak makanan. Jangan dibayangkan makanan kala itu seperti kue-kue yang dijual ditoko-ditoko sekarang. Mereka merayakan Idul fitri dengan memotong ayam satu ayam untuk satu RT. Anak-anak dan para lelaki diutamakan. Sedangkan para ibu dan wanita lebih banyak mempersiapkan hidangan tanpa banyak memakan. Padahal mereka yang makan banyak pun hanya mendapatkan paling banyak 5-8 suwir ayam. Yah... itulah kehidupan dimasa 1970an.
Mur yang tampak sibuk membantu ibunya tetap tampak cantik menawan. Mur memang lebih rajin dibandingkan saudara-saudaranya. Ia bukan lagi sibuk memasak tetapi sibuk mempersiapkan dagangan yang akan dijual didepan rumah setiap lebaran tiba. Maklum di hari ini biasanya anak-anak mendapatkan sedikit ampau dari sanak famili dan tetangga. Dan uang itu beberapa ditabung di pedagang. Beberapa orang yang bekerja ke luar kota pulang, terkadang mereka membeli sesuatu untuk di makan bersama keluarga.
Setelah siap, Mur dan seorang wanita tak kalah cantik dan bertubuh proposional duduk didepan rumah menunggu barang dagangan. Mur yang sedari tadi sibuk tak membuatnya tampak lusuh. Wajahnya yang cantik dan kulitnya yang halus membuat orang-orang mengira ia suka berdandan. Sebenarnya, Mur tak pernah mempunyai banyak waktu untuk berdandan. Cantiknya adalah anugrah dari Yang Maha Kuasa.
Sesekali terlihat orang lewat dengan berjalan kaki. Anak-anak bermain. Orang-orang yang memanfaatkan momen ini dengan berkunjung ke tempat saudara. Dari sinilah semua berawal.

Senin, 02 Februari 2015

Surat Untuk Ibu



Ibu... cintaku padamu tak kan lekang oleh waktu.
Wajah cantik yang berpuluh tahun lalu mempertaruhkan nyawanya hanya untuk melihat kehidupan baru, kelahiranku. Wajah yang kini mulai menua dan garis-garis keriput tergambar jelas. Mampukah aku membahagiakanmu ibu?
Sungguh cintamu sepanjang jalan dan cintaku sepanjang galah. Berjuta kali aku mencoba membahagiakanmu, tak pernah cukup membayar semua yang kau berikan padaku, bahkan jika aku memberikan seluruh hidup.

Sabtu, 10 Januari 2015

Anak Special (Si Pemaaf yang pertama puasa full)



Riuh suara menggema dikelas satu. Bulan ini adalah bulan pertama mereka berstatus sebagai siswa SD. Seperti biasanya ada yang menangis meminta pulang, minta ditunggui orang tuanya, berkelahi lalu dalam beberapa detik kemudian main bersama kembali, ataupun sekedar berebut mainan. Namun banyak pula yang sudah akrab dengan teman baru, bermain bersama dan berkenalan dengan guru serta kakak kelasnya. Unik. Setiap siswa memiliki pola asuh dan latar belakang keluarga yang berbeda-beda, baru kali ini saya mampu membuktikan kebenaran bahwa anak adalah gambaran pola asuh orang tuanya. Tiga puluh tujuh siswa yang hebat hari ini dengan karakter yang unik membuatku tertantang untuk mampu menaklukan mereka. Mata penuh sinar kepolosan tanpa dosa, tubuh mungil yang tiada henti bergerak membuatku terpana dengan ciptaan Allah. Mana mungkin aku tak sayang dengan mereka?
Kulihat satu bangku masih setia diduduki oleh pemiliknya, sosok anak yang terlihat mungil dengan mata bulat. Hati menggerakanku mendekati anak ini, “namanya mas siapa?” tanyaku lembut.
“Utsman.” Jawabnya.
“Mas Utsman, main itu sama temennya.” Kataku memintanya mencoba bersosialisasi dengan yang lain. Dan jawabannya hanya senyum.
“Itu main sama mas Naufal ya...” tunjukku kepada salah seorang anak yang sudah aku kenal sebelumnya. Utsman mulai bergerak dari tempat duduknya.
“Mas Naufal, mas Utsman diajak main ya...” kataku kepada Naufal.

Sabtu, 03 Januari 2015

Istikharoh Ananda part 5




Saya, Awan dan rombongan segera berangkat. Sungguh beruntung hari ini cerah. Sampai disana kami masih harus berjalan hingga 30km untuk memasuki daerah ini. Bau anyir darah para syuhada menusuk hidungku. Kami mendapatkan kabar bahwa salah satu perkampungan kembali di bom bersama satu barak pengungsian. Bau ini membuatku sangat mual. Darah berceceran dimana-mana. Tanganku mengeluarkan keringat dingin. Sungguh pemandangan yang menyeramkan. Rumah dan bangunan luluh lantah. Terlihat beberapa orang mengevakuasi di tempat kejadian. Ada yang menyelamatkan dari reruntuhan bangunan, menggendong balita yang kehilangan orang tua dengan luka penuh darah. Tak pernah ku bayangkan kehidupan seperti ini sebelumnya.

Istikharoh Ananda part 4



Aku mencoba menuruti apa kata ibu kali ini. Ia memintaku untuk menikah dan mencarikan jodoh untukku. Sebenarnya aku sudah tidak menginginkan untuk menikah. Tetapi aku pun tak ingin mengecewakan ibu. Perjodohan berjalan lancar. Tanggal pernikahan telah ditentukan. Seluruh anggota keluarga merona bahagia dengan pernikahan ini. Entah kenapa, aku tak bahagia ataupun sedih. Seperti seluruh hidupku tergadaikan demi kebahagiaan semua orang. Jalan hidup menjadi hambar. Bahkan tak lagi mampu merasakan sakit. Mungkin rasa sakit yang ditinggalkan Daffa masih membekas dihati.
Bintang bercahaya, berkedip genit kepada siapapun yang melihatnya. Tepat jam 9 malam aku bersama keluarga berkumpul menyiapkan pernikahan. Ting tong... ting tong... bel rumah berbunyi. Siapa dan untuk apa malam-malam begini mengganggu rumah orang. Pasti ada hal penting. Kakak pertama membukakan pintu. Nampak seorang perempuan cantik dengan rambut tergerai ke punggung berwajah sendu.
“Assalamu’alaikum, maaf benar ini rumah Ananda?” tanyanya. Merasa namaku disebut aku keluar dan mengintipnya dari balik korden yang membatasi ruang tengah dengan ruang tamu.
“Wa’alaikum salam. Iya benar, anda siapa?” tanya Mas Arya.
“Saya Nova. Ada yang ingin saya sampaikan dengan Ananda dan keluarga.” Jawabnya.
“Baik, silahkan masuk.” Jawab Mas Arya.
Kini aku, Mas Ridwan, ibu dan Nova duduk bersama diruang tamu.  Nova mengeluarkan amplop besar berwarna coklat dan memperlihatkan isinya.

Jumat, 02 Januari 2015

Sisi Hati Ridwan



Aku berada pada saat yang tidak beradaya. Seorang anak datang kepadaku bersama rasa sakit yang ia deritanya. Fisiknya baik-baik saja, bahkan tampak sangat kuat yang sakit adalah satu sisi tak nampak dalam hidup yang hingga kini para ilmuan pun tak tahu dimana letaknya. Ia bernama hati. Luka itu sangat dalam menyayat hati hingga sikapnya berbeda dengan anak yang lain. Ia berdiri tepat didepan mataku dengan membawa kain pel untuk mempertanggungjawabkan kesalahannya melanggar peraturan sekolah.
Tuhan betapa aku ingin menolongnya. Perbincangan ini kami mulai dengan bahasan ringan, tentang siapa namamu, dimana rumahmu, kenapa dihukum, dan pertanyaanku diakhiri dengan siapa nama orang tuamu. Ringan ia menjawab, “aku tidak punya orang tua”. Berdesir hatiku mendengar jawabannya. Sorot mata yang bersinar penuh dendam dan luka. Luka yang mungkin tidak pernah aku dan ia inginkan. Disinilah letak permasalahan yang sebenarnya.
“kok gitu... masak orang tua kok didoain biar cepet mati, eh nanti jadi anak durhaka lho...” jawabku dengan nada ringan menutupi hatiku yang gejolak.
“eh nggak ding bu, ibuku biar tetep sehat dan bahagia. Tapi bapakku biar cepet mati juga gak apa-apa” jawabnya. Astaghfirullah terdapat jawaban yang menguak sakitnya dengan lebih dalam.
“kok gitu... emang bapak kamu kemana?”
“bapak pergi jauh... gak ada kabar, mungkin udah mati...”
Pembicaraan terhenti saat aku dipanggil oleh pak BP yang menyuruhku mengantar sesuatu kekelas XA.
Ini sebuah pelajaran luar biasa untukku, wahai kaum hawa... jangan mau kau diperbudak dengan nafsu yang beratas namakan cinta. Hingga suatu saat kau menyesal dan mengalami luka. Lebih parahnya kau mambawa anakmu dalam lubang penderitaan itu. pilihlah lelaki yang baik agamanya dan bertanggungjawab.
Saat kembali ke ruang hukuman itu, Ridwan selesai melaksanakan hukumannya. Ya... Ridwan nama anak itu. Tidak baik jika ku lanjutkan pembicaraan dengan mengacuhkan jam pelajaran yang harus Ridwan jalani. Inilah satu hal terkuat mengapa aku mau bekerja sebagai staff BK disalah satu sekolah pinggiran kota. Aku ingin menyelamatkan anak-anak seperti Ridwan agar mereka punya masa depan.
Aku meminta masalah ini segera ditangani oleh kepala BK disana, namun responnya negatif. Ia tak mau menanganinya dengan alasan, “bisa berbuat apa kita, itu adalah takdir Tuhan untuknya”. Dan aku kembali bersikap tegas, “maaf pak, alasan saya mau bekerja disini adalah untuk ini. Ilmu saya tidak akan bermanfaat jika saya tidak bisa menyelamatkan mereka. Jika memang bapak tidak mau menanganinya biar saya yang menanganinya.” Dan akhirnya dengan itu, kepala BK disana bersedia menangani kasus tersebut. Dan aku sebagai pelaksana lapangan.
Aku mulai dengan satu langkah, pagi ini. Surat panggilan itu datang ke kelas XI IA 1. Menyuruh Ridawan keluar dan menemuiku. Pertemuan itu berlanjut di kantin sekolah. Ku korek informasi tentang Ridawan dan keluarganya. Dan aku menemukan satu titik terang yang akan ku ceritakan nanti saat aku berkunjung ke rumah Ridwan. Biar kalian dengar sendiri cerita ini dari ibunya Ridwan
Siang ini, matahari tak begitu menyengat tapi tetap cerah. Aku berjanji kepada Ridwan untuk main ke rumahnya. Dan disanalah aku akan menemui keluarganya. Disana aku menemui sesosok wanita yang berusia hampir 40 tahun sedang menjemur padi. Ini musim panen. Di rumah seribu jendela itu, aku berbicara dengan ibu Rodiyah. Ibunya Ridwan. Aku mulai dengan sedikit basa-basi dan menyasar ke permasalahan inti.
“mohon maaf bu Rodiyah, jika boleh saya bertanya dimana bapaknya Ridwan ya bu?” ku tatap wajah ibu itu, matanya nanar.
“bapaknya Ridwan pergi. Dari Ridwan usia 10 tahun. Bapaknya itu tukang mabuk, setiap hari pulang dengan keadaan mabuk, ia juga tidak mau bekerja. Setiap pulang adanya Cuma marah-marah. Ndak Cuma itu, ia juga gak segan-segan memukul kalo saya ndak mau menuruti kemauannya. Hingga pada hari itu, Ridwan yang masih 10 tahun bermain di ruang ini saat bapaknya pulang dalam kondisi setengah mabuk. Saat melihat Ridwan yang asik bermain mobil-mobilan dengan suara agak keras, ia membating Ridwan hingga Ridwan pingsan dan darah membanjiri seluruh kepalanya. Dan hingga kini luka itu masih membekas. Setelah kejadian itu, bapaknya Ridwan tidak menampakan dirinya. Dan saya segera mengurus surat perceraian. Saya dan Ridwan tidak berharap dia kembali lagi. Kami sudah bahagia hidup seperti ini.” Cerita Bu Rodiyah.
“ lalu Ridwan sekolah dengan biaya siapa bu?”
“ridwan disekolahkan oleh pak dhenya. Itu rumah pakdhe nya. Saya sendiri bekerja seperti ini Cuma cukup buat makan sehari-hari. Jadi pakdhenya Ridwan ini sangat membantu saya bahkan dalam menggantikan peran sebagai bapaknya.”
“mohon maaf sebelumnya, bukan maksud saya mencapuri urusan keluarga ibu. Tapi yang saya lihat, Ridwan itu trauma dengan kejadian itu. mungkin karena itu, ia berperilaku sedikit nakal dan tidak mematuhi tata tertib di sekolah. Mungkin karena ia juga merasa kurang kasih sayang.”
Dan mata nanar itu kini membasahi pipi denga air, “saya juga bingung bu... mau mengajari Ridwan, saya sendiri bodoh. Saya Cuma pingin ia bisa pandai dan menjadi orang sukses. Saya mungkin bukan ibu yang baik buat Ridwan, tapi saya berusaha yang terbaik untuk dia.” Suaranya sengau karena perih yang sudah tidak tertahan.
Dari balik pintu, Ridwan sedang menangis merenungi kesalahannya. Ibunya bekerja siang malam untuk memenuhi kebutuhannya namun ia belum bisa membanggakan ibunya. Ia keluar dari balik pintu, ia bersimpuh di kaki sang ibu dan meminta maaf. Dengan suara sengaunya, Ia berjanji akan menjadi anak yang baik, akan rajin belajar dan menjadi orang sukses seperti keinginan ibunya. Mungkin persepsi semua orang Ridwan tak lebih dari anak nakal. Tapi inilah kekuatan ibu, tapi ia adalah anak yang berbakti.
Dan ijinkan saya membuka rahasia nama Ridwan. Malam itu, seorang bayi lahir dari satu rumah kecil namun bahagia. Sang ayah yang bertanggung jawab berjuang membawa bidan malam hari saat hujan lebat untuk menolong persalinan istri tercintnya. Rumah yang orang bilang bahagia walaupun minim pemahaman agamanya. Saat suara bayi menggelegar memecah keheningan pertand a lahirnya seorang anak yang dinantikan. Kedua orang tuanya berharap anak ini menjadi malaikat yang mempersilakan kedua orang tuanya ke surga. Maka mereka menamakan anak ini dengan nama Ridwan, malaikat penunggu pintu surga. Dan doa malaikat mengamininya.... walaupun ia akan hidup didunia yang berat namun kelak ia akan membawa orang tuanya ke surga. Ridwan akan menjadi anak yang berbakti dan pemaaf walau luka hatinya begitu dalam. Dalam catatan Tuhan ia kelak akan menjadi seorang kaya yang dermawan dan berbakti kepada orang tua. Cinta Allah bersamanya didunia...
Ujian akhir semester telah usai, hari ini raport di berikan kepada wali murid masing-masing. Hari ini hari istimewa untuk Ridwan, ibu tercintanya mengusahakan mengambil sendiri raport Ridwan. Dan Ridwan membuktikan janjinya. Ia mendapatkan 10 besar semester ini. Kini air mata yang keluar dari mata bu Rodiyah adalah air mata kebahagiaan. Bangga terhadap anak semata wayangnya. Pujian dari guru dan temannya meluncur tanpa henti. Ridwan yang baik, pintar dan berbakti.
Dan lihatlah apa yang diazamkan dalam hatinya. Ia berazam semester depan akan mencetak prestasi yang lebih baik lagi. Untuk Allah dan untuk ibunya. Dan janji itu terpatri didalam hati.
Wahai kaum hawa... ditelapak kakimu dititipkan surgaNya. Rawatlah anakmu menjadi anak yang sholeh-sholehah karena ia hanyalah titipan Allah untuk kau bimbing. Berilah ia kasih sayang karena kekuatan sayangmu adalah kekuatan sayang terbesar didunia ini untuk anakmu. Dan itulah sebagian dari 1 cinta yang Allah turunkan didunia. Dan Allah masih memiliki 99cinta. Mencintailah dan berkasih sayanglah... karena anakmu berhak mendapatkannya.

Minggu, 28 Desember 2014

Kelas Indah dengan Media Pembelajaran


Mengisi classmeeting, di sekolah kami mengadakan lomba menghias kelas dan saya bertugas menjadi pendamping sekaligus membuat konsep untuk kelas 4. Beberapa kali saya browsing di internet tentang menghias kelas yang muncul hanya pernak-pernik menghias kelas biasa. Saya berpikir, bagaimana membuat hiasan tidak sekedar hiasan? Maksudnya membuat hiasan kelas yang bermanfaat untuk penghuni kelasnya. Ingat zaman kuliah belajar tentang media pembelajaran dan pengembangan profesi, akhirnya saya membuat konsep media pembelajaran menjadi hiasan kelas. Kok bisa??? Ya bisa... simak yuk...

Kembali ke Dunia Sunyi



Kembali ke dunia sunyi adalah pilihan. Sunyi merupakan kondisi dimana tak ada siapapun. Hanya ada aku dan diriku juga Tuhanku. Saat yang nyaman untuk berpikir sejenak tentang hidup, dosa dan kesalahan. Kemudian memberi resolusi baru dalam hidup. Ia membawaku kembali pada nuraniku. Bahasa dalam dunia ini adalah Bahasa Diam. Diam dari keramaian, kebencian, nafsu dan dunia. Sunyi membuatku terjaga dari dosa dan kesalahan. Namun, ia juga membuatku tak melakukan kebaikan.

Sunyi, sebuah dunia yang ku pilih dalam pelarian. Seperti halnya asam lambung yang hanya mampu mencerna maksimal 102 virus. Bergitu juga hati. Kurasa hati hanya mampu mencerna sekian rasa sakit untuk tetap biasa. Dan selebihnya, ia akan terluka.

Selasa, 09 Desember 2014

Istikharoh Ananda Part 3

Pagi dengan suasana agak mendung membuat orang malas melakukan pekerjaan. Tapi ini tak berlaku padaku. Pekerjaan pagi yang tidak bisa ditunda dan sudah menjadi kebiasaan. Mencuci piring, menyapu, beres-beres rumah dan diakhiri dengan bersiap mengajar. Seperti biasa, pagi ini aku dan ibu sarapan bersama sambil mengobrol tentang apa saja. Hari ini ku amati dengan teliti wajah seorang wanita berusia 65 tahun yang dipenuhi garis keriput. Wajah seorang wanita yang melahirkanku, kini sudah mulai menua. Namun wajahnya tetap teduh.

“Nan, kamu sudah punya calon belum?” tanya ibu. Pertanyaan yang menohok hatiku begitu dalam. Aku terdiam sejenak.
“Belum bu.” Jawabku.
“Ibu harap kamu segera menikah dan punya anak. Mumpung ibu masih hidup dan kuat.” Kata ibuku yang sekali lagi menohok tepat berada di titik nadi kehidupan. Dan aku kembali terdiam sejenak.

Akhirnya akupun merasakan menjadi seorang wanita berusia 25 tahun dengan status lajang. Aku memaklumi keinginan ibuku. Dari ke tiga saudaraku, tinggal aku yang berlum menikah dengan kondisi ibu yang mulai menua. Keinginan setiap orang tua terhadap anaknya terutama kepada putrinya adalah melihatnya menyempurnakan setengah Dinnnya, hidup normal dan bahagia bersama keluarga kecil. Dan pertanyaan ini yang paling membuatku bergejolak. Karena hal ini dipertanyakan langsung oleh ibuku dan menohok langsung tepat dititik terdalam. Sedangkan akupun tak tau jawabannya.

Jumat, 05 Desember 2014

Untuk Pemilik Tulang Rusuk Ini

Apa kabar imanmu hari ini? 

Aku doakan imanmu selalu terjaga. Aku selalu berdoa semoga Allah melimpahkan rizki-Nya yang halal untukmu, terjaga selalu imanmu, ragamu dan pikirmu. Karena aku tau, bahwa doaku akan menjadi penyemangat bagimu. Sebagaimana hawa diciptakan Allah dari tulang rusuk adam. Aku dan kamu adalah satu tubuh yang terpisah untuk saling melengkapi. Dan untuk itu aku selalu berdoa untukmu.

Tahukah kau???

Betapa sulitnya menjada hati ditengah semrawutnya dunia ini. Tapi aku terus mencoba mengkondisikan hati. Aku tau kau disanapun merasakan hal yang sama. Namun aku berdoa agar keimananmu mampu menjaga hatimu.

Kamis, 04 Desember 2014

ISTIKHARAH ANANDA part 2



Hari demi hari berlalu setelah ku putuskan untuk belum menerima kehadiran Daffa. Ternyata bukan hal mudah, tetapi hati ini jauh lebih tenang. Aku dan Daffa membuat kesepakatan bahwa kami tidak akan berkomunikasi dengan intens lagi. Tidak akan komen atau like status facebook satu sama lain. Aku hanya ingin menjaga hatinya dan hatiku untuk selalu berada di jalanNya. Bahwa hidup tak melulu untuk cinta yang ‘itu’. Walau aku telah memilih untuk hidup berada dalam satu cinta, cinta kepada Rabbul Izzati. Dilantai dua gedung baru sekolah yang sebenarnya belum jadi sempurna, aku bersama dengan ‘si putih’ menulis catatan perjalanan hidup. Terlihat jelas hamparan sawah dan dua gunung merapi dan merbabu pagi ini begitu indah. Hari ini cukup lenggang karena hanya mengajar 2 jam pelajaran. Dibelakang, anak-anak bersama dengan ustadzahnya bermain sambil belajar. Terlihat tawa mereka yang begitu riang. Betapa bahagianya mereka. Aku sendiri larut dalam ingatan 3 tahun yang lalu. Saat itu mungkin adalah kali pertama dan terakhir aku menitikan air mata di Organisasi Dakwah Intern Kampus(ODIK).
“jadi kepengurusan ODIK benar-benar sudah terbentuk?” tanyaku kepada Mbak Azira. Air mata mengalir begitu saja. Tak tahu apa yang aku rasa. Di satu lubuk hati ini seperti diambil paksa dan disayat. Perih.

Istikharoh Ananda part 1

Cerahnya pagi ini, puasa sudah melewati 10 malam pertama. Selama Ramadhan ini, si Ayam rajin sekali berkokok, biasanya jam 6 sudah mulai berhenti berkokok. Ini sudah jam 7.30 kokokan ayam masih saja sahut menyahut. Kata orang dulu, itu tandanya si ayam mengajak ayam yang lain berkelahi. Benarkah? Allahu ‘Alam. Yang aku tahu, kalau ada ayam berkokok itu tandanya ia melihat malaikat. Karena itu juga aku sangat suka jika si ayam berkokok. Ramadhan itu selalu menyenangkan. Damai. Tak ada setan. Di bulan ini jadi bisa mengukur kualitas diri dan berazam memperbaikinya. Jika tanpa setan saja kita masih berbuat dosa, bagaimana jika setan itu ada. Mungkin jadi dosa banget.
Aku yang duduk terdiam menghadap laptop mulai juga sibuk dengan tuts tuts hp. Mulai mencari bahan untuk merevisi proker. Tugas sekolah. Untungnya dulu sudah terbiasa saat di MAN maupun dikampus. Aku menikmati pekerjaanku. Sebagai guru bertemu dengan anak-anak yang tak berdosa. Beberapa tugas kantor yang juga pernah aku lakoni sebelumnya. Sekarang tinggal menikmati, tidak begitu dibuat sepaneng. Walaupun kadang-kadang sepaneng juga. Saat asik mengetik program kerja tiba-tiba suara instrumen yang ku jadikan ringtone hp berbunyi. Sms masuk. Sms yang membuatku gusar.
Nan, bisa bertemu?

Sabtu, 11 Oktober 2014

Ketika Anak Berbuat Salah

Seorang anak duduk manja dipangkuan saya setelah diminta wali kelasnya untuk bertanggung jawab atas snack temannya yang dimakan olehnya. “Mas, kenapa disini?” tanyaku.
“Disuruh ustadzah” jawabnya.
“Memang kenapa disuruh ustadzah kesini?” tanyaku.
“tadi makan snack lima.” Jawabnya sambil cemberut manja.

Jika kejadian itu dialami oleh bunda, apa yang akan bunda lakukan? Marah? Ngomel? Atau memukul?

Tersenyum karena bahagia atau Bahagia karena Tersenyum????

Bahagiakah anda? Kalau jawaban anda adalah ya! Maka pertanyaan anda berikutnya adalah kapan terakhir anda tersenyum? Jika anda tidak bisa menjawab (tentunya jangan asal menjawab alias ngawur). Maka dimungkinkan dalam diri anda ada setumpuk emosi negatif dan bahkan anda dihinggapi depresi!
Waspadalah...!!!! waspadalah... !!!!

Jumat, 10 Oktober 2014

Ibu, Jangan Benci Aku


Gedung bercat hijau, berdiri gagah diantara sawah-sawah yang mengelilinginya. Didepan bagian depan ada masjid yang tampak elegan berdiri walaupun masih tenggelam diantara gedung-gedung lain disekitarnya. Pagi ini cukup cerah jika dilihat dari arah timur menghadap ke barat, berjajar dua gunung menjadi latar gedung-gedung itu. Gunung itu adalah gunung Merapi dan Merbabu yang tampak indah tersinari matahari. Ditambah hiasan awan yang putih bersih dan langit biru yang menambah takjub yang memandangnya.  Aktivitas dideretan gedung itu telah dimulai. Tampak motor dan mobil memasuki area parker yang ada disana. Itulah kampusku IAIN Surakarta.
Papan pengumuman sejak sepagi ini sudah ramai diserbu Mahasiswa semester 7. Riuh. Ada yang senang, ada yang sesal, namun ada pula yang terlihat biasa-biasa saja. Mereka bukan melihat hasil ujian atau nilai apapun. Mereka melihat pengumuman pengelompokan KKN. KKN kali ini aka diselenggarakan di salah satu kecamatan paling ujung di kabupaten Sukoharjo. Namanya Bulu. Disanalah aku bersama teman-temanku akan mengabdi dengan memecahkan sebagian permasalahan di desa masing-masing. Aku ikut mendekati papan itu untuk mencari namaku. Tak begitu sulit karena namaku masih berada dijajaran teratas papan itu. Nama Ananda Sofia berada dikelompok 15 bersama dengan kelompok 16 ke desa Malangan yang akan dibimbing dengan Pak Harun Kurniawan. Tanggal pemberangkatan tinggal 1 minggu lagi. Aku harap semua berjalan dengan lancar.

Kamis, 09 Oktober 2014

Hafalan Al Qur'an dan Ananda

Siapa yang tidak ingin memiliki anak sholeh-sholehah??? Tentu semua orang tua ingin memiliki anak sholeh-sholehah. Karena mereka bisa menjadi amal jariyah kita. Mereka juga akan menjadi alasan Allah SWT memasukan kita ke surga-Nya. Lalu, apa yang harus kita lakukan agar anak-anak kita menjadi anak yang sholeh-sholehah. Salah satunya, jadikan mereka para penghafal qur’an.